Lelaki di Depan Butik

Sudah lama aku bekerja sebagai pelayan di butik. Sudah lama juga aku menyukainya. Entah bisa disebut apakah ini, kagum ataukah cinta. Yang aku tahu, aku senang melihatnya dan aku sedih melihatku yang hanya bisa melihatnya diam-diam.

Ingin sekali aku mengungkapkan perasaanku padanya. Ingin aku mengenalnya lebih dekat. Tetapi tidak bisa. Perasaanku kuat.

Kuat sekali berkata jangan.

Jika dibandingkan dengan perempuan lain, mungkin aku hanyalah perempuan yang tidak menarik. Tidak cantik, apalagi terawat. Tidak seperti Deby, yang mulus dan enak dilihat. Tidak seperti Amel, yang meskipun disebut aneh oleh orang-orang, dia tetap menarik. Tidak seperti Pat, yang jago olahraga.

Aku hanya perempuan yang lebih sibuk mengurusi nilai-nilai ujian ketimbang penampilan. Aku sibuk menjadi si pesimis yang selalu khawatir dengan kegagalan-kegagalan.

Mungkin itulah mengapa aku tidak berani mendekatinya. Karena aku belum ingin patah. Biar aku menikmatinya dulu saja, sambil berdoa, semoga ia semakin sering datang di butik ini. Berdiri saja di depan pintu tidak apa-apa.

Aku akan memandangnya dengan hati yang gembira.

Aku yang sedih tapi tetap mencintainya,

Gea

Published
Categories Blog Gea
Views 91

Comments

No Comments

Leave a Reply