Kapan Aku Bisa Bertemu Ayah?

Aku ingin merasakan Ayah. Tangannya, senyumnya, nasihatnya, atau bahkan omelannya ketika aku latihan basket terlalu bersemangat sampai lupa waktu, dan ia akan berkata bahwa aku harus beristirahat atau ia menyuruhku berhenti bermain basket agar aku tidak kecapean. Aku akan menolaknya dan Ayah mengelus kepalaku, lalu kita melupakan kejadian yang membuat kita bertengkar itu.

Aku ingin merasakan Ayah bukan sebagai angin yang mampir di kulitku untuk kemudian kembali pergi. Aku ingin merasakannya bukan sebagai kesedihan yang memasukiku dari kabar-kabar miring mulut tetangga.

Aku ingin merasakan Ayah, tanpa kebencian dan kesedihan Mama yang membuatku takut akan warna. Mama yang membuatku jauh dari kenyataan, dan aku bertanya-tanya, apakah Ayah adalah kamuflase dari ketidaksanggupan Mama untuk menyayangiku?

Apakah Ayah tahu bahwa aku ada?

Apakah Mama seutuhnya mengenaliku?

Apakah aku berharga bagi mereka?

Siapa yang bisa menyelamatkanku dari kesedihan dan ketakutan akan dunia yang ceria?

Hah, sudahlah, aku lupa, Pino belum dikasih makan. Lagi pula hanya dia yang selalu ada untukku. Pino juga menyukai gelap, karena ia makhluk nokturnal.

Sampai jumpa,

Pat

Published
Categories Blog Pat
Views 89

Comments

No Comments

Leave a Reply